Home > politics > Ulasan Buku “Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Era Reformasi”

Ulasan Buku “Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Era Reformasi”

Semester musim Semi baru saja selesai, dan akhirnya saya memiliki waktu untuk membaca berbagai buku dan tulisan di luar bacaan wajib untuk kelas. Segera saja saya membaca buku karya Kuskridho Ambardi (2009) yang diangkat dari disertasinya, “Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Era Reformasi”, yang diterbitkan oleh Penerbit KPG. Buku ini sudah lama ingin saya baca, namun baru berhasil saya dapatkan sekarang, melalui fasilitas peminjaman buku antar perpustakaan.

Dalam sekejap, dalam hitungan beberapa hari saya menuntaskan buku ini. Secara garis besar, buku ini merupakan karya akademik yang bagus dalam artian dapat menyentuh aspek-aspek teoritis dalam studi politik perbandingan sekaligus menyibak realitas empirik baru berkenaan dengan sistem kepartaian di Indonesia. Buku ini juga memberikan dasar yang bagus untuk penelitian-penelitian mengenai dinamika sistem kepartaian di Indonesia.

Sumber gambar:  http://www.lsi.or.id/agenda/372/Peluncuran%20Buku%20dan%20Diskusi%20Politik%20Kartel

Kali ini, saya akan mencoba membuat ulasan singkat sekaligus komentar atas buku ini.

Argumen utama dari buku ini sesungguhnya cukup sederhana: kebutuhan partai-partai politik di era reformasi atas perburuan rente (rent-seeking) di sumber-sumber dana non-bujeter mengakibatkan terbentuknya dan langgengnya sistem partai yang terkartelisasi (cartelized party system).

Berdasarkan karya-karya klasik dan terbaru tentang partai, sistem kepartaian, hubungan patron-klien, kartelisasi, politik Indonesia dan pola koalisi dari Sartori (2005), Lipset dan Rokkan (1967), Katz dan Mair (1995; 1996), Slater (2004), Feith (1962), Benda (1964) dan Lijphart (1968; 1977; 1984) serta studi sejarah atas perkembangan politik kepartaian Indonesia, Ambardi menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, pola koalisi yang muncul di Indonesia pasca runtuhnya Orde Baru cenderung mengarah pada kartelisasi sistem kepartaian. Perlu digarisbawahi bahwa fenomena kartelisasi tidak selesai hanya pada beberapa partai politik tertentu, namun juga menjangkau hampir semua (jikalau tidak semua) partai politik di tanah air. Akibat kartelisasi, partai politik menjadi kehilangan ideologi dan program, mudah bergonta-ganti arah kebijakan, dan pola koalisi yang dibangun pun cenderung bersifat serbaboleh (promiscuous) dan turah (oversized).  Beberapa contoh studi kasus korupsi dan berbagai jenis penggelapan dan penyalahgunaan uang negara via jalur nonbujeter yang diangkat Ambardi dalam bukunya yaitu kasus Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Buloggate I dan II, Bank Bali dan praktek-praktek politik di DPR juga mengonfirmasi hipotesa Ambardi tentang muncul dan langgengnya sistem partai yang terkartelisasi di Indonesia.

Tak lupa, Ambardi juga menambahkan beberapa saran mengenai arah riset ke depan yang dapat diangkat dari studinya. Pertama, kita bisa membandingkan Indonesia dengan Turki yang memiliki beberapa kemiripan (peranan Islam dan militer dalam politik, sejarah partai dominan, sistem politik yang demokratis, ketegangan antara Islam dan sekularisme, dan lain sebagainya) dalam kerangka “most similar system design” atau metode perbandingan dua kasus yang mirip ala Przeworski dan Teune (1970). Kedua, kita juga bisa melihat apakah tren serupa berlaku di tingkat lokal dengan menurunkan level analisa ke provinsi, kabupaten atau kota di Indonesia (King, Keohane, dan Verba, 1994).

Secara garis besar, saya rasa buku ini merupakan buku yang bagus dan telah berhasil memberikan sumbangan intelektual bagi perkembangan ilmu politik di tanah air. I would say that I buy the book’s argument. Secara garis besar, seperti diakui oleh Ambardi sendiri, mungkin dapat dikatakan bahwa sebenarnya dalam konteks theory building atau kontribusi teoretik dalam studi-studi tentang kartelisasi dan sistem kepartaian kontribusi buku ini cenderung minim; buku ini sekedar memberi tambahan dukungan empirik terhadap thesis-nya Katz dan Mair tentang kartelisasi partai. Namun, “minim”nya kontribusi teoretik buku ini, dalam kacamata saya, justru sangatlah penting, karena ia juga berhasil melakukan revisi atas thesis-nya Katz dan Mair dan argumen-argumen lain tentang kartelisasi. Pertama, kartelisasi tidak hanya terjadi pada satu atau dua partai namun juga terjadi pada sistem kepartaian secara kesuluruhan. Kedua, dalam konteks Indonesia, penyebab utama kartelisasi bukanlah perburuan rente atas dana ‘legal’ atau bujeter melainkan atas dana ‘bawah tangan’, ‘bawah meja’ atau non-bujeter. Dalam kacamata saya, dua sumbangan teoretik yang ‘minim’ (namun tetap bermanfaat) ini justru sangatlah penting untuk memahami kondisi politik Indonesia (dan negara berkembang lainnya) dewasa ini.

Berbagai kasus dan skandal korupsi yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dulu dianggap sebagai salah satu partai yang cukup terinstitusionalisasi dan berada di luar lingkaran kartel juga semakin meneguhkan argumen Ambardi tentang merebaknya kartelisasi dalam sistem kepartaian kita.

Lebih lanjut lagi, buku ini juga semakin memperlihatkan dilema-dilema yang akan dihadapi partai, politisi dan publik di dalam sistem demokrasi dan logika politik elektoral, sebagaimana yang diperlihatkan oleh contoh-contoh yang akan saya sebutkan. Pertama, karya klasik Przeworski dan Sprague (1986), Paper Stones, adalah sebuah contoh baik tentang bagaimana partai dengan militansi yang tangguh, yaitu partai-partai Kiri, Buruh, Sosialis dan Sosial-Demokrat di Eropa Barat, terpaksa harus “memoderasi” agenda-agenda politiknya setelah memasuki laga politik elektoral. Begitupun juga partai-partai Kanan seperti partai Kristen Demokrat, sebagaimana digambarkan oleh Stathis Kalyvas (1996).

Kemudian, Przeworski (2007) dalam salah satu wawancaranya juga menyebutkan bahwa salah satu hal yang penting dalam sistem demokrasi namun sering luput dari perhatian orang adalah mengenai akses dan penggunaan uang dalam politik. Karya Ambardi tentang praktek-praktek politik kepartaian dalam era pasca-otoritarianisme juga menunjukkan bagaimana diskusi mengenai akses, penggunaan dan arus uang dalam politik cenderung diabaikan dalam diskursus keilmuan yang serius atau sebaliknya cenderung terreduksi dalam diskusi yang sifatnya sehari-hari atau jurnalistik.

Dilema lain adalah persoalan collective action problem (Olson, 1965) atau dalam ranah filsafat Marxis-eksistensialis lebih dikenal sebagai persoalan practico-inert (Sartre, 1960), yaitu suatu kondisi di mana suatu organisasi atau lembaga telah berhenti melakukan fungsi dan tujuan yang seharusnya baik karena preferensi aktor-aktor di dalam organisasi atau lembaga tersebut telah melenceng dari tujuan kelembagaan maupun karena kelembaman kelembagaan yang membuat suatu organisasi atau lembaga (misalnya partai) eksis hanya untuk sekedar eksis.

Namun, sayangnya hal-hal yang saya sebut di atas tidak dibahas secara eksplisit dan cukup ekstensif dalam bukunya Ambardi. Mungkin keterbatasan tempat merupakan salah satu penyebabnya. Namun, andaikata memungkinkan, alangkah baiknya apabila persoalan-persoalan yang saya cantumkan di atas dapat dibahas secara lebih ekstensif dalam bukunya Ambardi.

All in all, secara keseluruhan, karya Dodi Ambardi pantas diacungi jempol. Karya ini telah berhasil menyumbang pemikiran baru tentang kondisi politik di tanah air. Semoga ke depannya kerja ilmiah ini dapat diteruskan – dan dapat menjadi panduan kita dalam memajukan ilmu politik dan ‘memberesi’ politik di tanah air.

Daftar Pustaka

Ambardi, K. (2009). Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era Reformasi. Jakarta: Penerbit KPG.

Benda, H. J. (1964). “Review Article: Democracy in Indonesia”. The Journal of Asian Studies, 23 (3), 449-456.

Feith, H. (1962). The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Ithaca, IL and London: Cornell University Press.

Kalyvas, S. (1996). The Rise of Christian Democracy in Europe. Ithaca, IL and London: Cornell University Press.

Katz, R. S. & Mair, P. (1995). “Changing Models of Party Organization and Party Democracy: The Emergence of the Cartel Party”. Party Politics, 1 (1), 5-31.

Katz, R.S. & Mair, P. (1996). “Cadre, Catch-All or Cartel? A Rejoinder”. Party Politics, 2 (4), 525-534.

King, G., Keohane, R. O., Verba, S. (1994). Designing Social Inquiry. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Lijphart, A. (1968). The Politics of Accommodation. Pluralism and Democracy in the Netherlands. Berkeley, CA: University of California Press.

Lijphart, A. (1977). Democracy in Plural Societies: A Comparative Exploration. New Haven, CT: Yale University Press.

Lijphart, A. (1984). Democracies: Patterns of Majoritarian & Consensus Government in Twenty-one Countries. New Haven, CT: Yale University Press.

Olson, M. (1965). The Logic of Collective Action: Public Goods and the Theory of Groups. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Przeworski, A. (2007). Capitalism, Democracy, Science. In Munck, G. L. & Snyder, R. (eds.), Passion, Craft, and Method in Comparative Politics. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press (p. 456-503).

Przeworski, A. & Sprague, J. (1986). Paper Stones: A History of Electoral Socialism. Chicago, IL and London: The University of Chicago Press.

Przeworski, A. & Teune, H. (1970). The Logic of Comparative Social Inquiry. New York, NY: John Wiley.

Sartori, G. (2005). Parties and Party Systems: a Framework for Analysis. Colchester: The ECPR Press.

Sartre, J. (1991). Critique of Dialectical Reason. London: Verso.

Slater, D. (2004). “Indonesia’s Accountability Trap: Party Cartels and Presidential Power after Democratic Transition”. Indonesia, 78, 61-92.

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: