Aktivisme dan Seminar di Kampus OU
Sebagai kampus dengan orientasi liberal-progresif, acara-acara diskusi, seminar, dan aksi-aksi untuk menyatakan dan semakin memantapkan diskursus politik progresif merupakan hal yang umum di Ohio University (OU), tempat saya belajar sekarang. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini, saya ingin berbagi beberapa informasi dan hasil dari beberapa seminar dan acara di OU akhir-akhir ini:
1. “Unraveling the Exception: Torture as a Problem of Violence in Liberal Democracies”
Seminar yang disponsori oleh the Center for Law, Justice, and Culture nya OU ini membahas tentang tema penyiksaan dan kekerasan dalam rejim demokrasi liberal. Kebetulan, yang menjadi host atau yang punya hajatan dalam acara kali ini adalah dua profesor saya, Judith Grant dari departemen saya, ilmu politik, dan Haley Duschinski, dari departemen antropologi. Kebetulan juga, saya ditanyakan apakah bersedia menemani narasumbernya, Jinee Lokaneeta, untuk makan siang sembari diskusi santai dan ngobrol-ngobrol. Spontan saja saya menjawab: ya! Akhirnya, saya dengan beberapa teman-teman lain dari jurusan ilmu politik, kajian pembangunan internasional, dan antropologi mendapat kesempatan untuk menemani Jinee makan siang dan menjadi rekan diskusi beliau.
Jinee, yang asli dari India, sekarang adalah profesor ilmu politik yang mengajar di Drew University, New Jersey. Meskipun saya agak telat menghadiri seminarnya karena saya ada kelas, dalam sesi makan siang saya berhasil untuk berbincang-bincang sedikit agak dalam dengan beliau, yang berujung pada sebuah pencerahan. Jinee adalah tipikal ilmuwan politik progresif yang berasal dari “negara dunia ke-3″ dan mengajar di Amerika. Kita berdiskusi berbagai macam topik, mulai dari gerakan perestroika (Perestroika Movement) di ilmu politik, teori “negara sub-kontinen India” (the Indian state) yang menjelaskan proses terbentuknya entitas negara di jazirah India dari perspektif sastra feminis poskolonial, kondisi kajian kawasan (Area Studies) di Amerika, dan tema seminarnya sendiri. Argumen utama yang dia tawarkan dalam seminarnya adalah fakta bahwa persoalan penyiksaan dalam rejim demokratik liberal, meskipun bukan hal yang merupakan kontradiksi internal secara 100%, menunjukkan sebuah bentuk constant struggle bagi demokrasi liberal, dengan mengambil studi kasus Amerika Serikat (AS) dan India.
2. “Sri Lanka’s Killing Fields” Screening
Event yang kali ini adalah sebuah pemutaran film dokumenter atau movie screening yang bercerita tentang pelanggaran HAM yang terjadi di sri Lanka menjelang berakhirnya perang antara pemerintah Sri Lanka dan kelompok Macan Tamil. Acara kali ini disponsori oleh sebuah organisasi di OU, Bobcats for a Conflict-free Campus dan Amnesty International USA. Kali ini, Profesor Duschinski juga menjadi penanggung jawab acara sekaligus yang punya hajatan.
Acara berlangsung cukup lancar, meskipun ada banyak gangguan teknis selama pemutaran film. Seperti biasa, selalu ada pro dan kontra dari para pelajar Sri Lanka yang menonton film dokumenter tersebut. Kebetulan saya pernah menyaksikan juga situasi yang seperti itu, jadi saya cukup tahu seperti apa “pro-kontra” bagi orang-orang Sri Lanka, terutama mengenai ketegangan antara orang Sinhala yang mayoritas dan orang Tamil yang minoritas. Namun, pro dan kontra tersebut, yang tercermin dalam diskusi, cukup bisa dikelola dengan baik.
Pembina sekaligus “Ibu” bagi kita, orang-orang Indonesia di Athens, Ohio, Ibu Collins, juga menghadiri kedua acara tersebut.
3. PhD Movie Screening
Nah, ini yang tak kalah seru. Selain acara yang bersifat agak serius, OU, yang dikenal dengan reputasi sebagai The #1 Party School atawa sekolah tukang pesta nomor satu di Amerika, juga sering mengadakan acara-acara hiburan yang gratisan, salah satunya adalah ini:
Taken from: http://www.ohio.edu/graduate/phdmovie.cfm
Ya, PhD Movie datang ke kampus OU! PhD Movie, sebuah parodi mengenai kehidupan mahasiswa pasca sarjana di Amerika, adalah hasil adaptasi film dari komik dengan judul dan tema serupa. Tak perlu ditanya lagi, filmnya sangat kocak -dan sangat kena dalam hal menyindir saya dan teman-teman =P.
Acara-acara inilah, yang merupakan salah satu keuntungan kuliah di OU, yang betul-betul saya syukuri.
Penelitian Kaum Elit dan Etnografi Orang Kaya
Selepas dari beberapa kesibukan minggu pertama kuliah, saya ingin berbagi beberapa ide dan gagasan yang baru-baru ini muncul. Bukan, ini bukan tentang keluhan mengenai rangkaian kegilaan di tanah air lagi.
Saya ingin sedikit berbagi tentang beberapa inspirasi mengenai apa tema riset yang cukup “canggih” dan menarik untuk dilakukan, yaitu:
1. Pertama, dalam bidang ilmu politik, yaitu riset tentang elit politik. Sudah barang tentu ada berbagai macam riset tentang elit, tapi yang mantap adalah studi tentang elit politik yang berada di tingkat atas dan merupakan pemangku kebijakan tertinggi, seperti jendral, presiden, atau menteri luar negeri. Saya teringat ada satu studi tentang kediktatoran dan peran jenderal di Brazil yang mendapat salah satu penghargaan ilmu politik, merupakan buah kegigihan si peneliti – seorang profesor perempuan dari Amerika – untuk “menembus” dunia para jenderal.
Dalam konteks dunia riset di tanah air, karya Sukardi Rinakit misalnya, tentang militer Indonesia pasca Orde Baru, bisa dibilang sebagai contoh penelitian politik para kaum elit militer yang cukup dahsyat, karena dapat menjaring sejumlah aktor politik militer yang penting, termasuk Presiden Suharto pada saat itu.

*The Indonesian Military after the New Order, retrieved from http://www.niaspress.dk/books/indonesian-military-after-new-order
2. Kedua, dalam bidang antropologi, yaitu riset dan etnografi tentang orang kaya. Ini menarik karena kita bisa melihat ketegangan antara kelas, identitas, etnisitas, gaya hidup, dan tata ruang kota dari studi ini. Dalam konteks ini, “orang kaya” yang saya maksud adalah orang kaya dalam konteks urban, yang tinggal di pemukiman-pemukiman rumah mewah di kota.

*Retrieved from: http://www.temple.edu/tempress/titles/1736_reg_print.html
Ada satu studi etnografi yang menarik, meskipun tidak dilakukan dengan pendekatan antropologi melainkan geografi, mengenai orang kaya yang dilakukan oleh Katharyne Mitchell, seorang profesor geografi di University of Washington, Seattle, dalam bukunya di atas yang berjudul “Crossing the Neoliberal Line”. Dalam bukunya yang merupakan adaptasi dari disertasi doktoralnya, Mitchell bercerita mengenai hasil riset lapangannya mengenai efek migrasi dari para diaspora Hong Kong yang kaya ke kota Vancouver, Kanada dan implikasinya terhadap perubahan lanskap kota, hubungan antar etnis, struktur politik ekonomi dalam ruang kota, dalam konteks payung besar bagaimana diskursus Liberalisme Kanada (dengan “L” besar) yang berbasis solidaritas sosial bergeser ke Neoliberalisme (dengan “N” besar) yang berbasis kepemilikan pribadi dan menjadi diskursus politik yang dominan.
Ulasan mengenai buku tersebut dapat dilihat di sini: http://www.cjsonline.ca/pdf/crossingneoliberal.pdf
Tentu saja ada berbagai hal yang harus kita pertimbangkan dalam studi kaum elit politik dan etnografi orang kaya. Selain kesulitan dalam hal pelaksanaan risetnya, bias juga bisa saja terjadi. Namun demikian, seandainya kita memiliki bias politik untuk berpihak kepada mereka yang termarjinalkan (tentunya saya tidak malu dan bangga memiliki bias tersebut), justru penelitian seperti ini bisa membantu untuk lebih memahami bagaimana elit politik dan penguasa kapital bekerja dan bertindak, yang tercermin dari gaya hidup mereka dan taktik mereka, sehingga kita bisa lebih pandai “mengakali”, “menyiasati”, dan pada akhirnya, menundukkan mereka, nah!
Saya membayangkan, suatu saat akan ada penelitian tentang etnografi dan politik-ekonomi orang kaya di Jakarta, di bilangan Kemang misalnya, atau di Bali. Lalu, berhubung banyak juga ekspatriat yang tinggal di situ, bisa dihubungkan dengan sejarah kota dan sejarah kolonial, untuk kemudian “ditarik” alur dan trajektori sejarahnya dan dilihat dari kacamata politik-ekonomi, analisa poskolonial/Marxis, dan analisa-analisa kritis lainnya. Ah, sedap sekali….
Kembali Soal Ilmu Politik dan Identitas
Pertama-tama, selamat tahun baru.
Dalam nuansa kumpul-kumpul, makan-makan, dan obrolan di sela-sela detik-detik pergantian tahun tempo hari, saya kembali menemukan beberapa topik diskusi yang menarik dengan teman-teman di Athens. Dua topik yang cukup hangat kami diskusikan kemarin adalah mengenai metode dalam ilmu politik dan politik identitas.
Metode terobosan?

Pertama, mengenai metode, sebagai mahasiswa ilmu politik salah satu ambisi “terliar” saya dalam disiplin ilmu politik adalah melakukan terobosan dalam bidang metode. Untuk itu, saya berkesimpulan bahwa saya memerlukan tiga “senjata” untuk bisa melakukan jurus terobosan tersebut: etnografi, statistik, dan data visual.
Mengenai etnografi, sudah lama menjadi perhatian sekaligus kekhawatiran saya bahwa ilmu politik kekurangan anthropological insight, wawasan dan kesadaran antropologis dalam penelitian-penelitiannya. Banyak faktor-faktor, seperti psikologi elit dan massa, pengalaman dan perilaku kolektif, serta formasi norma dan nilai yang dapat terbongkar denga metode-metode penelitian yang bersifat antropologis. Nah, etnografi menjadi jawabannya. Bayangkan bila misalnya data-data dari wawancara, yang seringkali memiliki berbagai kelemahan (jawaban wawancara yang sudah disesuaikan, keengganan narasumber untuk berterus terang, dan lain sebagainya) bisa ditriangulasikan dengan perilaku dari para aktor politik. Hasilnya adalah penelitian politik yang lebih kaya dan akurat, dari sebuah pendekatan riset politik yang antropologis atau riset antropologi yang politis.
Adapun statistik, yang merupakan pendekatan klasik dalam ilmu politik, juga perlu dikuasai secara menyeluruh terutama sekali jikalau kita memilih pendekatan Kiri dalam ilmu politik (baik “soft” – anti-positivis dan kuantifikasi maupun “hard” – masi menggunakan metode kuantitatif dan statistik dalam riset). Dengan naiknya ilusi positivisme dan dogmatisme matematis dan statistik dalam wacana-wacana politik di tanah air, yang mereduksi ilmu politik menjadi sekedar ilmu survey-surveyan, pengukuran popularitas, dan analisa politik yang dangkal, maka penguasaan statistik dan metode-metode kuantitatif menjadi penting untuk membongkar fenomena salah kaprah dalam ilmu politik kita.
Nah, mengenai data visual, ini adalah bidang baru bagi saya, dan saya akan “bereksperimen” dengan berusaha menggunakan dan memperkenalkan data visual ke dalam ilmu politik. Berbeda dengan disiplin Art History atau sejarah seni dan antropologi, penggunaan data visual dalam ilmu politik masih sangatlah minim, apalagi dalam konteks ilmu politik Indonesia. Padahal potensinya besar, seperti ditunjukkan oleh orang ini, seorang peneliti posdoktoral di Stanford yang berhasil menyusun database poster-poster kampanye pemilu 2009 (yang kocak dan konyol itu). Data visual dapat memetakan tren-tren dan model-model politik, mulai dari politik kontemporer hingga politik di era kerajaan zaman dulu.
Penguasaan atas tiga jenis metode ini, dapat dikatakan sebagai ambisi saya sebagai calon ilmuwan politik. Semoga usaha terobosan ini berhasil.
Politik Identitas?

*Retrieved from: http://www.nnn.se/media/n-model/palme/olof.jpg
Masih dalam rangka ngobrol-ngobrol kemarin, saya menyampaikan kegelisahan saya atas bagaimana latar belakang kita bisa menyulitkan usaha kita di pergerakan. Jujur saja, ketakutan terbesar saya adalah jika massa, rakyat, ummat, apapun itu, ujung-ujungnya hanya melihat saya sebagai “anak kelas menengah dari Jakarta yang, meskipun berusaha bersimpati, mengerti, dan membela massa, sebenarnya tidak dekat dan tidak tahu apa-apa tentang massa”.
Maka dari itu, saya berusaha melakukan upaya “bunuh diri politik identitas” – baik itu kelas, etnisitas, agama, orientasi seksual, dan lain sebagainya. Hanya saja, terkadang kita, para intelektual kelas menengah ini, seringkali memiliki semacam “kegenitan”, seakan-akan kita sudah melakukan bunuh diri kelas, kemudian gagahan dengan fakta itu, padahal mengucapkan dan menjalani adalah dua hal yang berbeda.
Dan bagi beberapa orang, dengan diam-diam, mereka sudah memberikan teladan dari perilaku semasa hidupnya selama diam-diam.
Simak misalnya, Fauzi Abdullah, atau yang juga terkenal sebagai Bang Oji atau Wan Oji. Dalam obituarinya dan buku kenangannya, dapat terlihat bagaimana sesungguhnya seorang intelektual yang organik, yang telah “menjadi”, seperti terlihat dalam kesederhanaan, kerendahan hati, dan solidaritasnya atas kaum buruh yang ditunjukkan dengan “kostum” kebesarannya yaitu sendal jepit, kaos, dan sarung, yang dikenakannya sembari ngerokok atau ngopi.
Dan saya rasa, saya masih jauh dari itu.
Sekali lagi, tentang kebebasan beragama
Di tanggal 1 Januar 2012 ini, kembali saya tersentak dan bangun dari kursi nyaman saya akan berita penyerangan terhadap kebebasan beragama.
Sebuah pondok pesantren Syi’ah di Madura diserang dan dibakar oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan kaum Sunni.
Mendengar cerita seperti ini, kembali hati saya teriris. Kebhinekaan dan kebebasan sipil dan beragama, hak-hak yang paling dasar bagi seorang warga, seorang manusia dalam ranah Republik, kembali terlanggar. Belum lagi komentar Menko Polhukam yang mengaggap urusan ini “bukan urusannya”, bukan domainnya. Dan lagi-lagi negara absen.
Dan yang lebih mengusik saya, saya dan kita, sebagai bagian dari kelas menengah dan Ummat Islam Indonesia, kembali memilih menjadi mayoritas diam, silent majority. Memang ada ancaman dari vigilantisme yang meningkat, seperti dilakukan oleh FPI dan sebagainya, tapi kita – setidaknya saya – tidak pernah benar-benar berani untuk keluar dari gelembung, zona nyaman kita untuk dekat, berbaur, mengerti, dan menjadi bagian dari Massa, yang acapkali sering dibajak sekarang oleh sentimen-sentimen Kanan seperti ini (atau sentimen modal dan politik transaksional).
Kita memilih untuk diam, atau paling mentok sekedar berkoar dari kursi empuk kita. Dan ironisnya, inilah yang sedang saya lakukan, duduk dari kursi nyaman saya sembari “mereduksi” panggilan ini dengan menjadikannya sebagai entri blog, dengan kenyamanan hidup di rantau.
Seorang senior sekaligus kawan baik saya menyebut soal keamanan menjadi pertimbangan utama bagi orang-orang untuk diam. Saya pikir itu sungguh benar. Tapi tetap saja, harus ada yang berbuat, setidaknya berbicara. Dan sungguh malu saya oleh ketidakmampuan saya sendiri.
Saya jadi teringat syair Pastor Jerman anti-Nazi, Martin Niemöller, dalam usaha resistensinya atas rezim fasis Nazi:
First They Came
by Pastor Martin Niemöller
First they came for the communists,
and I didn’t speak out because I wasn’t a communist.
Then they came for the trade unionists,
and I didn’t speak out because I wasn’t a trade unionist.
Then they came for the Jews,
and I didn’t speak out because I wasn’t a Jew.
Then they came for me
and there was no one left to speak out for me.
Ini betul-betul menunjukkan bagaimana kebaikan diam dan tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Dan sungguh, diam itulah kejahatan yang terbesar.
Dalam konteks kita, saya ingin sedikit ‘menggubah’ puisi itu menjadi seperti ini:
First they came for the communists,
and I didn’t speak out because I wasn’t a communist.
Then they came for the Chinese,
and I didn’t speak out because I wasn’t a Chinese.
Then they came for the Ahmadis,
and I didn’t speak out because I wasn’t a Ahmadis.
Then they came for the Shias,
and I didn’t speak out because I wasn’t a Shia.
Then they came for me
and there was no one left to speak out for me.
Kita mungkin bisa menjadi yang selanjutnya. Oleh karena itu, pembelaan terhadap minoritas, yang tertindas, dan kemanusiaan menjadi hak dan keniscayaan.
Liberalisme dan Komunitarianisme di Amerika: Pelajaran dari Thanksgiving
Banyak orang, terutama di tanah air, memiliki semacam persepsi atau pemahaman yang kurang tepat mengenai apa yang menjadi dasar-dasar ideologis kehidupan publik dan sosial-politik dalam konteks Amerika, dalam hal ini Liberalisme. Sebagai pembelajaran dan refleksi dari pengalaman saya berkunjung ke acara thanksgiving seorang kawan Amerika di sini, saya ingin sedikit bercerita mengenai observasi dan interpretasi saya mengenai Liberalisme dalam kehidupan keluarga dan aktivitas publik.
Kira-kira sekitar akhir bulan November, mendekati perayaan thanksgiving yang menjadi momen orang-orang Amerika untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada keluarga, teman, dan orang-orang terdekat lainnya. Kebetulan saya dan beberapa teman-teman yang lain diundang oleh Erik, seorang Mahasiswa S-2 OU jurusan pendidikan, untuk datang dan menginap di rumah Ibunya di Cincinnati dalam rangka thanksgiving.
Kehangatan dan kebaikan Erik, yang sering kami rasakan dari dia sebagai teman, juga terpancar dari para anggota keluarganya. Kami diperlakukan selaiknya anggota keluarga mereka sendiri.
Selain perlakuan mereka yang sangat menghargai dan memanjakan tamu, dua hal lain yang sangat mengesankan bagi saya adalah kehangatan dan kekeluargaan di antara mereka sekaligus pandangan hidup mereka yang terbuka. Hubungan teman saya, Erik, dengan para anggota keluarganya yang lain sangatlah hangat. Tidak hanya itu, keluarga Erik ternyata juga telah lama memiliki reputasi keluarga yang filantropis; dari generasi ke generasi mereka telah banyak menyumbang tanah, gedung, dan banyak hal lain untuk keperluan para tetangga dan masyarakat sekitar mereka seperti pembangunan sekolah, gereja, dan fasilitas umum lainnya.
Selain itu, mereka juga sangat terbuka dan terbiasa menyambut orang dengan latar belakang yang lain, termasuk saya dan beberapa teman-teman Indonesia dan internasional lainnya. Yang lebih menarik lagi, keluarga besar Erik juga memang aktif dalam kehidupan publik di sekitar lingkungan mereka, seperti kegiatang-kegiatan komunitas dan gereja. Dari perbincangan-perbincangan dengan Erik dan cerita-cerita dia sendiri saya juga sering mendengar kisah-kisah masa muda Erik sebagai aktivis generasi 1960an, keterlibatan dan usaha advokasi dia terhadap orang-orang Indian asli Amerika atau Native Americans, dan konsistensi dia di bidang pendidikan, yang sampai sekarang masih dia jalankan dengan menekui kegiatan tutoring dan mengajar terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan pendidikan perdamaian.
Untuk sekedar informasi, Erik sekeluarga memiliki latar belakang Irish Catholic, orang Amerika keturunan Irlandia yang Katolik, yang meskipun berlatar belakang Kaukasian, merupakan minoritas dalam masyarakat Amerika yang dominan WASP (White, Anglo-Saxon, Protestant – Berkulit putih, keturunan Inggris atau berbahasa Inggris, dan penganut Protestan).
Dari pengalaman saya yang kali ini, saya melihat bagaimana Liberalisme Amerika “dipraktekkan” dalam kehidupan Erik dan keluarganya. Liberalisme yang justru berbasis komunitarianisme – penghargaan dan anjuran untuk aktif dalam kehidupan publik sebagai bagian dari masyarakat dengan keluarga sebagai basis, sebagai unit terkecil dari masyarakat.
Tentu, sesuai dengan semangat Liberalisme, ada penghargaan atas pilihan-pilihan dan hak pribadi di situ, terlihat dari bagaimana keluarga Erik tidak berusaha ‘mengutak-atik’ pilihan hidupnya untuk berdedikasi pada dunia pendidikan dan tutoring bahasa-bahasa ‘aneh’ yang tidak lazim seperti Yunani dan Latin misalnya, yang notabene tidak begitu ‘menghasilkan’ (terutama dari perspektif masyarakat kapitalis modern yang melihat segala sesuatunya dari profit). Tapi, inti dari observasi dan kesimpulan saya adalah, bagaimana sesungguhya Liberalisme amerika adalah perpaduan, harmoni antara komunalisme dalam kehidupan publik yang bersanding dengan penghargaan atas hak-hak individu. Di sini, Liberalisme jelas tampak bukan seperti “individualisme dan egoisme buta” yang sering menjadi tuduhan orang.
Dalam kaitannya dengan spektrum politik Amerika, Liberalisme berdampingan juga dengan agenda-agenda politik progresif, yang berarti dukungan terhadap negara kesejahteraaan, perlindungan terhadap para keluarga yang bekerja, dan pembelaan atas para buruh, kelas menengah, dan apa yang disebut ‘rakyat’ pada umumnya. Bisa dikatakan, kurang lebih ini mirip dengan Sosial Demokrasi ala Eropa, yang agenda-agendanya saya dukung.
Jika tujuan atas Liberalisme Amerika yang berhaluan negara kesejahteraan adalah penghargaan atas individu-individu dan segala potensinya, maka apresiasi dan praktek atas nilai-nilai solidaritas, komunalisme (dalam artiannya yang baik), dan semangat kekeluargan adalah cornerstone-nya, landasannya, seperti dipraktekkan oleh Erik dan keluarganya.
Dalam beberapa literatur-literatur politik Amerika, ilmuwan dan pemikir politik kenamaan seperti Theda Skocpol, Robert Dahl, dan John Rawls juga menyampaikan hal serupa seperti di atas, yaitu liberalisme-progresif berbasis komunitarianisme yang menjadi dasar untuk demokrasi Amerika yang lebih deliberatif dan adil.
Sayangnya, tradisi progresif politik Amerika sekarang ini lebih banyak ‘dikotori’ oleh dominasi dan militansi agenda konservatif-neoliberal dan juga kebijakan politik luar negeri yang neo-konservatif dari para politisi dan lingkar pembuat kebijakan di Amerika. Lebih disayangkan lagi, model politik dan ilmu politik yang keblinger (yang memang juga dari Amerika) inilah yang mau ‘diekspor’ ke politik dan disiplin ilmu politik Indonesia. Ditambah lagi dengan mundurnya kekuatan dan posisi politik kaum progresif global dari berbagai arus, seperti sosialis, sosial demokrat, hijau, liberal sosial, Islam progresif, dan banyak lainnya yang “tergagap” menjawab derasnya arus zaman.
Misi saya adalah untuk “mendobrak” kegagapan kita. Dan dari kehangatan keluarga Erik di pekan thanskgiving, saya kembali belajar banyak untuk lebih mengerti manusia dan masyarakat.
Renungan di Hari Natal
Selamat Natal bagi teman-teman yang merayakan. Semoga damai di bumi segera terwujud dan selalu menyertai kita.
Beberapa hari terakhir ini, dalam benak saya, beberapa pemikiran dan kontemplasi tentang apa itu ‘identitas’ berkecamuk dengan hebatnya. Di tengah-tengah malam dan diiringi dengan secangkir kopi, saya mencoba menuangkan beberapa penafsiran mengenai apa itu identitas, berdasarkan hasil memori dan pengalaman kolektif saya sekaligus perenungan-perenungan yang saya lakukan selama ini.
Dalam hal kelas, saya menyadari bahwa saya terlahir, dan dalam sebagian besar rangkaian kehidupan saya, besar dengan latar belakang kelas menengah. Ada beberapa aspek dari kehidupan ala kelas menengah, seperti selera musik dan berpakaian, hiburan, pandangan dan gaya hidup, dan beberapa hal lainnya, yang cukup mencerminkan basis kelas saya secara signifikan.
Namun demikian, saya sangat kritis, jika tidak menolak dan membuang secara total, kemelempeman dan tendensi reaksioner (dan turunannya, “anti-revolusioner/progresif”) dari beberapa elemen kelas menengah. Berbekal pada pengalaman hidup dan kesadaran yang muncul dari pengalaman dan pembacaan-pembacaan atas kondisi sosial kita, saya memilih untuk tidak hanya bersimpati, melainkan mengidentifikasikan diri saya dengan teman-teman yang termarginalisasikan dalam berbagai hal dan terperangkap dalam suatu sistem politik-ekonomi dan sosio-kultural yang opresif, yang disebut dengan berbagai nama, seperti massa, al-mustadh’afin (“yang lemah dan tertindas”), proletar, multitude, warga republik, buruh, petani, dan nama-nama lainnya. Meskipun menolak messianisme dan utopianisme dalam politik, saya selalu percaya akan kemampuan rakyat untuk membawa perubahan secara evolusioner dan deliberatif menuju sistem yang lebih demokratik secara radikal.
Tentu saja, beberapa aspek kehidupan kelas menengah seperti hiburan dan gaya hidup, serta di beberapa kalangan kelas menengah yang progresif, kepedulian akan kondisi kehidupan publik kita dan kemampuan untuk menggerakkan perubahan yang dimotori oleh massa merupakan hal-hal yang perlu diapresiasi dan disebarkan, dan saya setuju itu. Meskipun mengambil posisi ideologis tertentu, saya juga sangat anti dengan tendensi-tendensi otoritarian dan totalitarian dari segala aliran dan golongan, yang mungkin secara rahasia bersemayam juga dalam diri kita.
Secara etnisitas, atau mungkin afiliasi kultural, saya sampai kepada kesimpulan bahwa saya memilih untuk mengambil posisi agnostik dalam identitas etnis dan kultural saya. Lahir dan besar di konteks urban Jakarta dari orang tua dengan latar belakang Jawa Barat-Sunda dan Medan-Melayu dan mengalami hidup di beberapa tempat yang berbeda, saya memutuskan untuk menanggalkan identias etnisitas dan kultural saya yang “menempel” pada diri saya, apapun itu (“orang Sunda”, “orang Jakarta”, “warga kota”, dan sebagainya).
Tentu saja, sebagai seseorang dengan kepedulian terhadap berbagai suku bangsa dan kelompok etnis yang ada di tanah air (dan juga di banyak tempat lain di dunia ini), saya berusaha untuk menerjemahkan kepedulian tersebut menjadi praksis yang nyata. Secara jelas dan sadar, saya berpihak kepada banyak saudara-saudari kita yang masih terpinggirkan dalam kehidupan berbangsa di republik ini. Tapi di satu sisi, kritisisme saya akan ekses buruk dari sukuisme, etnosentrisme, dan komunalisme yang berlebihan (seperti reproduksi patriarkhisme, merebaknya kekerasan komunal, dan imperialisme kebudayaan ) memaksa saya untuk mengambil posisi yang bisa “melampaui” sekat-sekat identitas, yaitu agnostik dalam hal kultural. Konsekuensi bagi orang “agnostik” (dalam hal apapun itu, dan dalam hal ini, secara etnisitas) adalah “ketercerabutan” dari akar budaya dan komunitas, yang terkadang menyulitkan usaha kita untuk masuk dan memahami budaya-budaya tertentu karena kurangnya ikatan dengan komunitas karena agnotisisme kita, dan tentunya saya sadar akan konsekuensi itu.
Dalam hal agama dan keimanan, “pendekatan” saya agak beda dengan sikap saya dengan dua dimensi identitas saya sebelumya. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya lahir dalam keluarga yang tidak hanya religius dan taat dalam beragama, namun juga berusaha mentransformasikan religiusitas itu dalam praksis kehidupan sosial dan politik secara progresif, tanpa terjebak oleh formalisme agama. Selain menjadi hal yang sangat inspiratif sekaligus “bahan bakar” yang “membara” untuk perjuangan, agama dan iman merupakan sesuatu yang sangat pribadi, sangat personal buat saya. Saya percaya akan keindahan, kebenaran, dan pembebasan dari keimanan pada Allah dan ajaran-ajaran agama.
Memang, seringkali saya dapati ketegangan-ketegangan dalam keimanan dan keberagaman saya. Ada beberapa titik ketegangan antara saya dan agama, seperti dalam soal nilai dan institusi keluarga dan posisi perempuan, hingga pada satu titik di mana saya sangat kritis terhadap posisi agama dalam kaitannya dengan dua topik ini (yang mana saya berencana akan menuliskannya di kesempatan yang lain). Namun demikian, saya tidak akan pernah bisa “lepas” dari agama; saya tidak bisa menjadi agnostik, apalagi atheis. Terlepas dari berbagai pertanyaan-pertanyaan saya tentang agama, bagi saya, agama tetap menjadi pedoman dan sumber pencerahan yang tak terhingga bagi kehidupan saya.
Proses identifikasi diri, yang mirip dengan suatu pencarian yang tiada henti, menjadi penting karena itu membantu kita untuk mengetahui mengapa orang berpikir dan bertindak dengan pola-pola tertentu, dengan cara merefleksikannya dengan latar belakang mereka dan mencari pengaruh dari latar belakang tersebut ke dalam pandangan hidup dan tindakan seseorang.
Sebagai seorang “penembus batas” dan “kawan seperjalanan” (fellow traveler), saya mencoba melakukan “eksperimen” dengan pengalaman dan kehidupan saya sendiri, melakukan semacam “eksplorasi” akan sebuah kemungkinan: bagaimana kita, terlepas dari apapun latar belakang kita, dapat menjadi bagian dari upaya politik emansipatoris yang merayakan perbedaan sekaligus progresif. Pada akhirnya, kita akan sadar: yang lebih penting bukanlah siapa kita, dari mana kita berasal, atau seperti apa pengalaman kehidupan kita, tetapi apa yang kita yakini dan apa yang kita lakukan.
Mengutip kata Chomsky, “saya menghindari pembicaraan-pembicaraan tentang kehidupan dan latar belakang pribadi saya karena saya ingin orang lebih memperhatikan apa yang saya katakan dan kerjakan.”
Dan saya rasa, itu benar.
Donkey: Kedai Kopi dan Aktivisme

*Taken from: http://athensinteractivist.com/images/donkey.png




Recent Comments